Pupuk Organik Cair dan Tanaman

Berapa besar kebutuhan tanaman akan POC ?

Banyak sumber menyatakan, salah satu kemampuan daun adalah menyerap unsur hara yang dibutuhkan tanaman dari udara bebas untuk proses photosintesis. Kemampuan ini, dinyatakan, jauh lebih besar dibandingkan akar tanaman. Banyak yang menyebutkan bahwa daun berperan sebagai akar di atas permukaan tanah bagi tanaman. Jika memang demikian adanya, pemberian unsur hara dengan sengaja melalui daun, sudah tentu akan sangat banyak membantu proses pertumbuhan tanaman.

Pupuk Organik Cair (POC) atau lebih dikenal dengan sebutan pupuk cair atau pupuk daun, lebih diutamakan pengaplikasiannya untuk melengkapi kebutuhan nutrisi tanaman melalui daun dan memang harus demikian penerapannya. POC tidak bisa berperan sebagai jalur utama tanaman dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya. Media tanam tetap merupakan jalur utama tanaman dalam memperoleh nutrisi yang menjadi kebutuhannya. Jadi, apa pun ceritanya, pengaplikasian POC tetap hanya sekedar pelengkap saja. Untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi utama tanaman, tetap harus dengan cara perawatan dan pemenuhan nutrisi pada media tanam. Jika tingkat kelayakan nutrisi media tanam sudah cukup lengkap, maka fungsi pengaplikasian POC dapat ditiadakan. Namun, jika kita menginginkan pertumbuhan tanaman relatif cepat, pengaplikasian POC secara rutin akan sangat membantu.

Berapa jumlah dosis dibutuhkan dalam setiap kali pengaplikasian POC? Menurut beberapa sumber di internet, mayoritas mengatakan, dalam jumlah yang sangat kecil. Jadi, berapa banyak? Berapa definisi takaran jumlah yang sangat kecil itu? Tidak ada parameter yang pasti. Sampai akhirnya, saya berkesimpulan, jika akar hanya mampu menyerap 2% keberadaan unsur hara di media tanam (Wikipedia) setiap harinya, maka takaran yang diperlukan POC untuk daun adalah 2% dari takaran yang dijadikan standar dalam sekali pengaplikasian. Misalnya, jika pada kemasan dinyatakan takaran maksimum 10 ml dicampur dengan air 1 liter, maka takaran yang dibutuhkan menjadi 2% dari 10 ml per 1 liter air untuk setiap kali pengaplikasian. Jika, rekomendasi pada kemasan menyatakan pengaplikasian dilakukan dalam selang waktu 1 minggu sekali, maka hasil takaran dosis 2% dari 10 ml dibagi 7 (1 minggu = 7 hari) untuk dapat diaplikasikan setiap harinya.

Dasar teori takaran dosis ini adalah keseimbangan penyerapan unsur hara oleh akar berbanding sama dengan penyerapan unsur hara oleh daun. Mengapa demikian? Selama ini saya mencoba mengaplikasikan, mulai dari takaran dosis terendah hingga tertinggi disesuaikan dengan frekuensi pengaplikasian. Saya menemukan, bahwa semakin besar dosis yang diberikan bukan hanya membuat kemungkinan tanaman menjadi over dosis, tapi juga peredaran hama semakin tinggi. Demikian juga kebalikannya, semakin kecil takaran dosis yang diberikan, peredaran hama menjadi semakin rendah dan tanaman pun tumbuh dengan banyak kekurangan unsur hara.

Hal ini bukan berarti teori pengaplikasian POC yang saya sampaikan dapat mengatasi hama tanaman, setidaknya peredaran hama masih dalam taraf terkendali. Tindakan ter-aman adalah menjaga ketersediaan unsur hara media tanam. Walau pertumbuhan tanaman relatif lambat, kemungkinan terjadi serangan hama daun jauh berkurang.

Apa yang menjadi parameter untuk menjaga unsur hara pada media tanam tetap seimbang? Anda bisa membacanya pada artikel Kacang kedelai tumbuk / giling sebagai pupuk….

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengaplikasikan POC pada daun (foliar feeding). Selain rendahnya konsentrasi dosis pupuk, waktu pengaplikasian sangat mempengaruhi tingkat penyerapan daun terhadap pupuk. Dengan mengabaikan bagian daun termudah dalam menyerap pupuk, aplikasi sebaiknya dilakukan saat sebelum matahari terbit atau setelah matahari terbenam dimana tingkat kelembaban (relatif humidity = RH) > 80%. Untuk mengetahui tingkat RH dengan tepat, kita memerlukan alat pengukur kelembaban yang dinamakan Hygrometer. Bagi pelaku tanaman hias profesional, alat tersebut mutlak ada di kebun mereka. Bagaimana untuk yang sekedar iseng (non profesional / hobbies)? Mengetahui secara tepat berapa tingkat RH hanya dengan menebak adalah tidak mungkin. Namun, yang selama ini saya perhatikan, tingkat kelembaban akan naik saat terjadi pergantian suhu, yaitu sebelum matahari terbit (± pukul 5 – 6 pagi) dan setelah matahari terbenam menjelang tengah malam (± pukul 10 – 11 malam).
Saat sebelum pupuk diaplikasikan, ada baiknya didahului dengan penyiraman. Selain menaikkan tingkat RH, penyebaran pupuk akan merata. Selain itu, dosis pupuk menjadi agak melemah, sehingga kemungkinan terjadi overdosis bisa diminimalisir. Saya menemukan pendapat yang sama dari cara ini di situs University of Arizona.

Membuat Pupuk Organik Cair (POC) sendiri…???

Di awal artikel Membuat Pupuk Organik Cair untuk Daun…, terdapat daftar bahan organik dan cara membuat POC (versi metode pribadi) dibagian akhir artikel. Itu adalah cara termudah dan teraman. Apa maksudnya? Tidak semua bahan organik aman untuk dijadikan POC. Selain kandungan mineral dan protein yang bervariasi (tergantung lokasi), pengaruh tingkat pH setelah POC diaplikasikan juga patut diperhatikan.

Menurut keterangan beberapa sumber di internet, unsur hara yang bersifat “mobile” (biasanya termasuk dalam kategori nutrisi makro) pada tanaman, memiliki kecenderungan untuk mempengaruhi pertumbuhan bagian tanaman / daun baru. Sedangkan unsur hara yang bersifat “not mobile” (biasanya termasuk dalam kategori nutrisi mikro), cenderung untuk mempengaruhi bagian tanaman / daun lama. Bahan organik, nabati dan hewani, memiliki kandungan nutrisi yang bervariasi. Sampai sejauh ini, agak sulit bagi saya menemukan bahan organik dengan kandungan nutrisi mikro cukup lengkap yang ideal untuk dijadikan sebagai bahan dasar membuat POC.

Mengacu kecenderungan fungsi POC sebagai pelengkap nutrisi mikro, bukan sebagai pemenuhan kebutuhan nutrisi makro, menjadi penting untuk diketahui dengan jelas jenis bahan organik yang hendak dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan POC. Mengapa? Media tanam layak tanam adalah media tanam dengan kandungan (minimal N-P-K) nutrisi makro yang memadai. Seandainya POC dibuat dengan bahan dasar dengan kandungan nutrisi makro dan diaplikasikan pada tanaman ber-media tanam layak tanam, dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya overdosis nutrisi. Jadi, bahan organik dengan kandungan nutrisi makro tinggi, sebaiknya (atau lebih baik), tidak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan POC.

Hampir semua bahan organik yang berasal dari biota air memiliki kemiripan kandungan mineral dan protein. Walaupun berbeda lokasi, kandungan utama mineral dan protein biota air umumnya tidak jauh berbeda, terkecuali lokasi / tempat mereka dibesarkan bercampur limbah bahan kimia. Tingkat pH produk akhir setelah diaplikasikanpun relatif normal.

Berbeda dengan bahan organik yang berasal dari tumbuhan / nabati. Selain kandungan mineral dan protein tergantung lokasi dimana bahan itu tumbuh, tingkat pH produk akhir setelah diaplikasikan juga berbeda. Misalnya, POC berbahan dasar daun teh, memiliki tingkat pH sangat rendah (± 4). Sedangkan untuk POC berbahan dasar kopi, tingkat pH-nya berada pada kisaran 5 s/d 6. Pengaplikasian POC berbahan organik dengan bawaan pH rendah mengakibatkan bilah daun lama menjadi kuning.

Bagaimana dengan komposisi NPK dari kedua bahan nabati tersebut? Sampai dengan saat ini, saya belum menemukan cara atau metode yang dapat menentukan berapa komposisi NPK dari sebuah bahan organik.

Memang, pada artikel Membuat Pupuk Organik Cair untuk Daun…, terdapat daftar bahan organik beserta komposisi kandungan NPK-nya  Namun, keakuratan angka-angka yang mewakili nilai kandungan NPK dari masing-masing bahan, tidak saya ketahui ketepatannya. Pertama kali menemukan daftar tersebut, timbul harapan saya untuk membuat ramuan POC dengan kandungan unsur hara sesuai seperti dibutuhkan. Beberapa bahan organik yang ada di daftar tersebut, pernah di coba dijadikan sebagai bahan dasar membuat POC. Parameter kelayakan produk akhir ditentukan berdasarkan efek terhadap tanaman dalam satu periode pengaplikasian. Eksperimen dua bahan nabati, teh atau kopi, menunjukkan hasil jauh dari harapan. Eksperimen dengan bahan biota air, seperti kepala ikan atau udang, menunjukkan hasil sangat memuaskan. Eksperimen atas bahan organik yang sama diulang hingga beberapa kali guna mendapatkan kepastian, hasilnya tetap sama. Kemudian saya melakukan penulusuran lebih jauh guna memperoleh detail informasi mengenai bahan nabati. Ternyata, selain menghasilkan perbedaan tingkat pH pada media tanam, bahan nabati juga memiliki kelebihan mineral dan protein dengan tingkat perbedaan yang relatif cukup tinggi. Jadi masing-masing bahan nabati memiliki kelebihan kandungan nutrisi yang unik. Misalnya, bawang putih (garlic) memiliki kandungan unsur Mn (Manganese) cukup tinggi diantara bahan nabati lain pada umumnya. Perbedaan tinggi-rendah nya tingkat kandungan nutrisi ini akan mempengaruhi keseimbangan komposisi kebutuhan nutrisi makro dan mikro pada tanaman yang diaplikasikan (artikel Nutrisi untuk Tanaman…). Penggabungan beberapa bahan dasar nabati untuk memperoleh komposisi kandungan mineral dan protein yang seimbang bukan tidak mungkin dikerjakan, namun diperlukan alat bantu dan perlengkapan yang lebih memadai.

Beberapa situs, baik akademis maupun non-akademis (amatir), mempublikasikan informasi mengenai daftar kandungan NPK dari beberapa bahan organik. Terdapat jenis bahan organik yang sama, dinyatakan memiliki kesamaan kandungan NPK. Namun, ada juga yang berbeda. Dan, parahnya, tidak satupun dari mereka (sepanjang sepengetahuan saya) pernah menyediakan informasi mengenai metode yang mendasari keberadaan angka-angka kandungan NPK tersebut. Mereka hanya menyertakan informasi kelayakan penerapan pemakaian bahan organik pada luas area lahan tertentu.

Sebenarnya, tidaklah salah jika mereka tidak menyediakan informasi mengenai metode yang mendasari keberadaan angka-angka kandungan NPK bahan organik tersebut. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kualitas suatu bahan organik sangat ditentukan oleh lokasi asalnya. Dengan kata lain informasi mengenai nilai kandungan NPK satu / beberapa bahan organik yang mereka publikasikan, lebih bersifat perkiraan secara umum. Baik untuk dijadikan acuan, namun jangan diandalkan keakuratannya.

Mungkin, ada cara atau metode lebih sederhana dalam pembuatan POC berbahan dasar nabati yang tidak / belum saya temukan, sehingga sampai saat ini penggunaan biota air sebagai bahan dasar pembuatan POC adalah cara termudah dan relatif aman.

Kebutuhan POC pada skala rumah tangga…

Berapa liter jumlah POC untuk memenuhi kebutuhan nutrisi seluruh tanaman di halaman rumah kita selama setahun? Jika tujuan membuat POC sendiri adalah memenuhi kebutuhan tanaman di halaman rumah, maka jumlah liter yang dibutuhkan tidak lebih dari ½ liter dalam setahun.

Reaksi tanaman terhadap POC baru benar-benar nampak setelah 1 bulan sejak pengaplikasian. Untuk sekali pengaplikasian POC pada area seluas 3 x 8 meter, saya hanya memerlukan 2 kubus es air rebusan udang yang dicampur dengan 4 liter air tawar dalam sebulan (4 minggu). Jika 1 kubus es dicairkan akan menjadi ±15 mililiter biang POC, jadi dalam setahun saya hanya memerlukan 15 x 2 x 12 = 360 milliter (< 500 mililiter) biang POC. Meskipun frekuensi pengaplikasian ditingkatkan menjadi 1 minggu sekali, maka total kebutuhan biang POC adalah : 15 x 8 x 12 = 1440 mililiter (< 2 liter) selama setahun. Jumlah yang sangat kecil dengan biaya yang sangat murah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman melalui daun (foliar feeding).

Kesulitan memperoleh informasi kandungan nutrisi bahan organik sebagai dasar membuat POC merupakan kendala tersendiri disamping mendapatkan informasi mengenai sifat pH bahan organik tersebut. Bahan organik terbaik untuk dijadikan biang POC, harus memiliki sifat pH netral. Cara termudah mengeluarkan kandungan nutrisi dalam bahan organik adalah dengan menggodoknya di atas api kecil (< 60° Celcius) selama ± 10 – 20 menit, dimana tehnik api kecil dan lama waktu penggodokan itu pun tidak mutlak sebagaimana yang tertulis. Jadi, seandainya anda memiliki bahan organik untuk dijadikan POC, hanya perlu mencari informasi kandungan nutrisi dan sifat pH dari bahan tersebut. Seandainya informasi itu tersedia dan kandungan nutrisi yang tertera sesuai dengan yang diinginkan, anda tinggal memasaknya untuk dijadikan biang POC. Setelah selesai dan menjadi dingin, masukkan ke dalam freezer.

Pada prakteknya, bagian tersulit adalah menilai efek produk akhir terhadap tanaman secara adil dan jujur. Dalam hal ini, perlu dipahami, bahwa satu / beberapa kegagalan produk / hasil akhir adalah hal yang wajar. Puluhan jenis bahan mentah organik pernah saya coba, hanya beberapa yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan POC, diantaranya adalah bawang putih (garlic). Ketidaktahuan merupakan hal yang dimiliki oleh setiap orang, menjadi salah atau gagal adalah proses untuk mengikis / mengurangi ketidaktahuan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s